Sebuah Catatan di Masa Peralihan

Mendapat Kesempatan Seminar Nasional

Pada akhirnya sebagian keparanoidan saya waktu itu terjawab sudah. Kesempatan antara seminar atau publikasi jurnal untuk mendapatkan LOA sebagai syarat sidang skripsi pun akhirnya saya dapatkan yang seminar nasional (menjadi pemakalah pendamping), yang di adakan di kampus saya sendiri Upgris pada hari Sabtu 14 Juli tepat dua lalu. Padahal saya berharap banget dapat kesempatan yang publikasi jurnal di kampus lain (Unimed). Tapi karena kuota publikasi di kampus Unimed sudah penuh jadilah saya memutuskan untuk mengikuti Seminar Nasional yang alhamdulillah sekali waktu itu masih dibuka pendaftarannya. Kalau sudah ditutup saya pasti kelabakan nyari channel sana-sini info tentang Seminar atau Publikasi Jurnal.

Alasan mengapa saya sebenarnya lebih berharap mendapat kesempatan publikasi jurnal itu sebenarnya karena publikasi jurnal lebih simpel. Kita tinggal kirim abstrak dan artikel skripsi lalu transfer uang, kita bakalan langsung dapat LOA nya, dan selesai tinggal menunggu jurnal terbit yang menjadi urusan pihak kampus yang menerbitkan (yang penting sudah dapat LOA). Sedangkan untuk seminar, kita mengirim abstrak dan artikel skripsi, transfer uang dapat LOA tapi di hari H nanti mempresentasikan artikel skripsinya. Ya kalau boleh jujur saya paling nggak suka yang namanya presentasi alias ngomong di depan banyak orang xD. Tapi Allah memilihkan jalan itu untukku, yang harus disyukuri sekali waktu itu masih dibuka pendaftarannya. Kalau sudah tutup saya bakalan kelabakan nyari info seminar/publikasi jurnal di kampus-kampus lain.

ACC Dosen Pembimbing

16 Juli, akhirnya skripsi saya di acc dosbing I, 30 Juli di acc dosbing II. Alhamdulillah banget. Pas di acc Dosbing II itu rasanya senengnya nggak karuan. Itu adalah jawaban dari pertanyaan keparanoidan saya, “kapan ya skripsi di acc?”

Mendaftar Ujian Sidang Skripsi

Tanggal 1 Agustus akhirnya saya mendaftar sidang. Lega? Tentu. Tanggal 8 Agustus info jadwal sidang keluar dan saya mendapat jadwal sidang tanggal 13 Agustus. Waktu itu saat melihat nama penguji III saya kaget karena bukan dari salah satu dosen-dosen dugaan saya. But, Bu Dosen itu baik banget orangnya.

Sidang Skripsi

Temen-teman yang sudah mendapatkan jadwal sidang dan sidang lebih dulu berkata bahwasanya sidang tidak semenakutkan yang dibayangkan. Katanya ya bakalan biasa aja kalau udah di ruangan. Memang pas awal ya takut. Mereka bilang ribetnya nanti pas suruh revisi dan pemberkasan wisuda. Dan saya akhirnya mengalami sendiri, begitulah rasanya. Benar, nggak terlalu deg-degan, he he he. Juga benar kata mereka, ribetnya pas revisi sama pemberkasan wisuda. Saya ngurus revisi dan pemberkasan wisuda ada dua mingguan, jadilah akhir Agustus lalu saya selesai pemberkasan.

Menunggu Wisuda

Finally, saya dalam penantian masa Wisuda yang akan dilaksanakan 11 Oktober. Maka dari itu saya sudah mulai apply lamaran juga, tapi bukan di Sekolah. Saya melamar di BPR dan di Indosat Ooredoo. Saya tidak berharap banyak dipanggil di Bank itu. Untuk yang Indosat Ooredoo kemarin Rabu saya nekat ikut Walk In Interview sebagai Call Center Officer (padahal saya tipe orang yang tidak terlalu suka banyak omong 😂), dan belum tahu hasilnya karena saya sudah sempat lolos wawancara, lalu mengikuti psikotest, test phone teks, dan test call juga, tinggal menunggu Interview User, yang akan dipanggil dalam waktu maksimal tiga hari. Jika mendapat panggilan maka Senin besuk bisa mengikuti training sebagai Call Center Officer. Jika tidak dipanggil sampai besok, berarti saya belum beruntung.

Selagi menunggu, besok saya juga akan mengahadiri Job Fair di kampus Udinus, semoga saja itu menjadi salah satu jalan keberuntungan untuk saya.

Tulisan ini akan menjadi pengingat seorang saya saat berada di masa-masa peralihan. Juga, akan saya kenang dalam hidup saya. See you ^^

Terjemahan Lirik Lagu See U Later – Blackpink

Juni lalu Blackpink comeback dengan 1st mini album yang bertajuk Square Up dengan 4 lagu di dalamnya yaitu Du Ddu Du Ddu, Forever Young, Really, dan terakhir See U Later.

Blackpink yang beranggotakan 4 member yaitu Jisoo, Jennie, Rose, dan Lisa ini menjadi salah satu girlband favorite saya selain GFRIEND, karena lagu-lagu mereka itu memiliki genre HipHop, RnB, Dance, easy listening banget, konsep MV, show di stage sampai kostum pasti unik dan swag, dan yang paling aku suka adalah karakter suara masing-masing member yang begitu khas. Jarang sekali saya menemukan grup girlband yang setiap personelnya “memiliki suara khas”.

Blackpink memiliki satu member yang berasal dari Thailand, she is Lisa (sebelah kiri), lahir tahun 1997 (maknae, re: member termuda). Sebelahnya ada Jisoo (1995), Jennie (1996), dan Rose (1997) yang ketiganya asli Korea. But, Jennie pernah pindah ke New Zealand sedangkan Rose lahir dan besar di Australia. Dan disini saya paling suka suara si Rose, unik banget suaranya.

Kembali ke album Square Up, saya suka banget dengan lagu yang berjudul Forever Young dan See U Later. Tapi untuk kesempatan kali ini saya mau berbagi terjemahan bahasa Indonesia untuk lagu See U Later. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang dikhianatin sama pacarnya. Selamat membaca dan search di Youtube jika penasaran dengan lagunya.

[Indo] See You Later – Blackpink

[Jisoo]

Tidak ada yang perlu disesali

Aku benar-benar sudah melakukan yang terbaik

Bagi ku itu sama saja, memiliki mu atau pun tidak memiliki mu

[Lisa]

Setiap kali janji berubah

Dan itu sudah berulang kali tidak terhitung

Pria yang tidak peduli

Meskipun aku memberi mu segenap hatiku

[Jennie]

Cincin permintamaafan mu seperti kaleng kosong

Sekarang semua itu seperti anjing menggonggong

Setiap kali ku datang, segalanya tentang kau membuat kulit ku merinding

[Rose]

Aku akan membuang mu dan mendaur ulang

Dia yang di sebelahmu adalah seseorang yang bodoh

Aku akan memberitahu mu hari ini

Aku tidak menginginkanmu lagi

[Jennie]

Hold up!

Kau pikir kau akan abadi

Tetapi akhirnya, kau mengacaukannya lagi

Kembali dan berlalu

Kau terlalu ringan untuk ping pong

Sekarang, aku akan mencampakkan mu

[Lisa]

Kau tak tahu kau adalah pemain

Kau memilih orang yang salah

Kamu seharusnya memujaku

Seperti ratu lebah

[Jennie]

See u later boy, see u later

See u later boy, see u later later

See u later boy, see u later

See u later boy, see u later later

[Lisa]

Would have, could have, sould have

Did’nt

[Jisoo]

Aku tidak tergila-gila lagi

Itu bukan masalah jika,

Kau mengejarku setelah ini

Tapi kau plin-plan, blah blah blah, menyedihkan!

[Lisa]

Sekarang kamu tidak memiliki teman terbaik

Kamu akan kesepian akhir pekan nanti

Kamu adalah seorang pengecut, penyendiri

Yang menggertak, haa

[Jennie]

Cincin permintamaafan mu seperti kaleng kosong

Sekarang semua itu seperti anjing menggonggong

Setiap kali ku datang, segalanya tentang kau membuat kulit ku merinding

[Rose]

Aku akan membuang mu dan mendaur ulang

Dia yang ada di sebelahmu adalah seseorang yang bodoh

Aku akan memberitahu mu hari ini

Aku tidak menginginkanmu lagi

[Jennie]

Seperti waktu yang berlalu begitu cepat tanpa luka yang disadari

Kamu pergi juga sekarang

Kamu telah lupa siapa saya

Terus terang, lebih baik mengingat

I’m a boss bitch

[Lisa]

Drama mu sudah ku selesaikan

Aku sudah menghapus nomor mu

Aku telah menyalakan mesin di hatiku lagi untuk menangkap perasaan orang lain

Seperti pedal ke logam

[Jisoo]

Selamat tinggal sayang

Kau harusnya baik padaku saat aku masih berada di sisi mu

Kenapa kamu ingin pergi dan melakukan itu?

[Rose]

Kamu menyukai bagaimana ku menjauh darimu

Lihat, semua yang kau inginkan ini dan ingatlah selamat tinggal

Nah itu dia terjemahannya, see yaw 🙂

For The Last Time, Story About NHA – Part 2 (End)

“Aku percaya, jatuh cinta pada pandangan pertama itu ada”

Jika boleh jujur, sejak pertemuan itu aku diam-diam jatuh cinta

Meskipun nomormu di handphoneku belum ku namai

Akhirnya aku iseng, menamaimu

Oh, jadi ternyata selama ini kamu menyimpan nomorku?

Karena faktanya setelah aku simpan, aku bisa melihat status wasap mu

Tapi kenapa statusmu selalu terlihat sedih?

Tapi aku sama sekali belum berani membalas statusmu

Hingga akhirnya aku yang bahwasanya jarang membuat status di wasap, akhirnya aku juga membuat status tapi puisinya Chairil Anwar

Selain untuk melampiaskan kelelahan selama KKN, barangkali ia membalas statusku

Setengah modus memang

Akhirnya setelah perjumpaan pertama 14 Februari itu kita memang hanya bisa saling melihat status

Tapi, tanggal Sabtu 3 Maret…

Sabtu, sore hari ketika aku selesai mengantarkan pulang anak yang ikut geladi bersih di kecamatan

Aku mampir di depan Indomaret untuk membeli makanan

Ketika aku turun dari motor, aku sempat melihat wasap dahulu

Nomor baru muncul

Dan aku membukanya

Jantungku. . .

Ingin jingkrak-jingkrak

Ingin teriak kegirangan

tapi banyak orang

Akhirnya aku balas pesan darimu

Hingga akhirnya aku sampai di posko, kita saling wasapan hingga pukul 21:45

Wasapan ditengah-tengah kesibukan masing-masing, sehingga berakhirlah agak malam

Senin, 5 Maret

Setelah rapat malam aku memutuskan pulang ke rumah

Gantian dengan teman-teman yang pulang malam kemarin

Tapi sejujurnya aku bingung akan pulang apa tidak karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul setengah 11 malam

Dan rapat juga belum selesai

Akhirnya aku menulis status, tapi bukan untuk memancingmu

Setelah itu aku bergegas pulang, ditemani hujan yang mengguyur

Aku orangnya memang suka nekad

Kalau ingin pulang ya pulang nggak peduli sudah larut malam dan hujan

Sudah hampir dekat rumah, aku mampir beli nasi goreng dulu

Dibungkus biar ku makan di rumah

Seraya menunggu

Aku membuka handphone

Sudah bisa kalian tebak

Statusku kamu balas

Aku pengen senyum-senyum sendiri

Lalu ku balas

Dan berakhir dengan berkirim pesan

Nasi goreng udah terbungkus, saatnya saya bayar dan kembali ke motor

Dan kejadian memalukan terjadi

Aku lupa naruh kunci motor

Aku cari di tas, saku jaket, saku celana tidak ada semua

Aku panik

Aku melihat ke arah tempat duduk tadi

Sepasang muda-mudi yang duduk dekat tempat dudukku tadi melihat ke arah ku

“Maskernya ketinggalan mbak?”katanya sambil memperlihatkan masker itu. Tapi itu bukan punyaku.

“Oh?,” jawabku dengan kebingungan dan penuh tanda tanya lalu aku mendekat

“Mbak lihat kontak motor nggak?” tanyaku sambil bingung deg-degan sebenernya

“Kontak motor nggak lihat mbak,” jawab mbaknya seraya mencari-mencari.

“Eh ini mbak udah ketemu,” aku memungut kontak motor ku yang terkapar terjatuh dibawah samping tempat duduk ku tadi.

Malu ku. . .

Lalu aku pulang

Sampai rumah aku disambut Bapak

Ibu yang tertidur lelap akhirnya terbangun

Aku memakan Nasi Goreng seraya bercengkerama dengan bapak dan ibu

Dan aku tersadar bahwa aku telat makan

Karena perutku sakit, tapi aku diam saja

Dan sejujurnya aku tidak konsen makan karena perasaan gembira, malu tadi jadi satu

Finally kita tetap wasapan, ku sambil dengan membuat laporan KKN sehingga ku balas agak lama pesannya

Iya aku heran kenapa kau tidak tidur-tidur

Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 00.06 WIB

Kita sudah berada di tanggal 6 Maret, Selasa

Dan kini waktu menunjukkan 00.47 dia juga belum tidur, hingga jika aku tidak mengucapkan selamat beristirahat mungkin dia tidak akan tidur

Obrolan berakhir pukul 00.51

Dan aku masih melanjutkan laporanku sampai selesai

Dan aku tidak tahu kau benar sudah akan tidur atau belum

Rabu, 7 Maret

Ini hari penarikan KKN, setelah makan bersama di resto ayam geprek, aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidak ikut ke posko untuk beres2 karena badan bener-bener capek dan nggak mood buat melakukan seuatu

Lagipula barang-barang juga sudah ku bawa pulang

Lala yang ikut beres-beres ke posko menelfon ku

“Musda, kamu pergi ya sama NHA?”

“Ha? Ya enggak lah, nggak mungkin.”

“Kirain, tahu gitu aku tadi juga langsung pulang.”

“Hahaha, aku tadi langsung ijin ke ketua buat langsung pulang.”

“Yaah, nggak bilang-bilang.”

Ucapan Lala bikin baper memang

Apalagi Lala pas awal-awal pernah bilang kalau kamu itu habis putus sama pacarnya

Sore harinya kamu membuat status di wasap, sejak aku berteman di wasap seperti yang sudah ku tuliskan diatas bahwasanya statusmu memang sering sedih

For the first time, aku membalas status wasapmu ngasih saran dan semangat

Kamis, 8 Maret

Kamu masih down

Jumat, 9 Maret

Sudah ada kemajuan, aku dan kamu akhirnya membahas hal-hal yang bahagia dan memang berakhir bahagia

Sabtu, 10 Maret

Aku mengantarkan surat ke rumah Ibu RW 15 salah satu tempat yang singgahi uuntuk KKN

Lalu mampir membeli jamur krispi dan pop ice

Lalu aku membuat status, “Jauh-jauh ke Bxxxxxx cuman mau beli pop ice sama jamur krispi” dengan privasi “hanya bagikan dengan”

Tentu saja kamu!

Padahal kalian tahu sendiri, bahwa tujuan pertama adalah mengantar hasil laporan kegiatan

Tapi namanya saja modus, untuk mengetahui apakah dia membalas statusku atau tidak

Bingo!

Dia membalas

Dan akhirnya saling berkirim pesan lagi

Selasa, 13 Maret

Malam, kita masih berkirim pesan,

Rabu, 14 Maret

Pagi, pesanku tadi malam dibuka tapi hanya dibaca

Disini aku merasa dia sudah berbeda

Aku yang dibawa terbang setingi-tingginya merasa tiba-tiba dijatuhkan seketika olehmu

Senin, 19 Maret

Aku mengumpulkan nyali untuk minta maaf jikalau ada yang salah,

Selasa, 20 Maret

Itu waktu-waktu dimana kita berkirim pesan lagi

Kamu juga meminta maaf padaku karena sudah membuatku merasa tidak enak

Kemudian masalah selesai

Tapi pada akhirnya hari-hari setelah itu kita tidak menjadi dekat lagi

Ada perasaan berbeda jika harus membalas status

Maka dari itu akhirnya kita hanya saling melihat status, bahkan sudah jarang melihat

Lalu Senin 2 April

Aku memposting foto tiket kereta ke Jakarta

Aku pikir, kamu sudah tidak peduli lagi

Lalu ketika aku masuk ke sebuah toko dan membuka HP

Aku melihat namamu terpampang di layarku

Sedikit tidak percaya memang

Lalu ku jawab dengan sedikit bercanda

Empat pesan kemudian obrolan berakhir

Karena aku merasa kita sudah beda, jadi ku jawab tidak seantusias dulu

Takut jika aku kamu jatuhkan kembali

Lalu sampai sekarang sudah tidak ada obrolan wasap lagi

Tahukah kalian, pertemuan yang sempat direncanakan juga tidak akan pernah dilakukan

14 Februari aku jatuh cinta

14 Maret aku patah hati

Ini cerita tentang aku dan kamu

Jika boleh jujur sampai sekarang aku belum bisa melupakan kisah itu

Ada pengharapan untuk bisa berteman lagi dengan mu

Ya, meskipun diam-diam aku jatuh cinta

Tapi aku sangat bahagia jika kita hanya berteman saja

Karena aku masih sangat sibuk mengejar mimpi-mimpi ku

Jadi aku tidak mempedulikan hubungan yang lebih

Teman, ya harusnya kita bisa berteman sangat lama

Tapi Allah tidak mengizinkan

Aku tidak tahu apa alasannya

Dan, semoga ini adalah tulisan terakhir tentangmu

Dan setelah ku tuangkan disini

Aku berharap tidak ada kerinduan-kerinduan lagi

Jumat, 27 Juli

Aku mencoba menghapus jejak di jalanan pelabuhan

Jalanan yang pernah kita lewati

Aku masih ingat di mobilmu waktu itu diputar lagu Menghapus Jejak milik Peterpan

Rasanya bahagia mengingat kisah 14 Februari, tapi sedih karena harus berakhir seperti ini

Semoga kamu baik-baik saja disana karena aku tidak pernah tahu pasti apa yang yang sedang terjadi denganmu~~

“Hubungan kita hanya kebetulan.
Waktu itu kamu kebetulan bertingkah dengan indahnya,
dan aku kebetulan terpesona dengan bodohnya”

[End]

Rindu Sendiri – Iqbal Ramadhan

For The Last Time, Story About NHA – Part 1

Berawal dari salah satu proker bidang pendidikan, yang harus menjemput ibu dosen dengan menggunakan mobil untuk mengisi acara kami. Mengapa harus mobil? Karena sang ibu dosen sedang hamil tua. Malam sebelum hari H, Lala -bukan nama sebenarnya (teman sekelompokku di KKN) memutuskan untuk menghubungi NHA temannya yang kebetulan memiliki mobil. Siapa tahu dia bisa membantu. Lalu jadilah setelah dia menghubungi NHA, Lala memberikan nomorku pada NHA, hingga akhirnya aku dihubungi olehnya. Setelah fix, tiap detik aku selalu diledek Lala gara-gara katanya besok aku mau “jalan-jalan”.

Aku tidak tahu apa yang terjadi besok, aku berharap yang terbaik

Malam turun hujan

Pagi yang dingin

Tapi siang begitu panas

Itulah musim di bulan Februari

Rabu, 14 takdir mempertemukan aku dan kamu

Kamu yang bersedia membantuku, kami.

Kamu baik. . .

Aku berjalan kaki, untuk menemuimu di tempat yang sudah aku katakan sebelumnya

Jantungku berdebar, tapi aku harus tetap melangkah menemuimu, dan segera menyelesaikan tugas ku.

Ingat, tanpamu, tugasku kacau!

Sepanjang menapak jalanan tanah untuk keluar gang posko

Aku selalu memikirkan duduk dimana nanti? Depan atau belakang?

Dan untuk pertama kalinya aku berjumpa denganmu

Lalu sesampainya aku memutuskan untuk di depan

Bukan tanpa alasan, dan itu membuatku serba salah

Jika aku di belakang, kita bagaikan driver taksi online dan penumpangnya

Jika aku di depan, takut kau berpikir apa-apa

Aku tidak peduli, aku hanya ingin kita tidak merasa hening dan membosankan nantinya

Aku terus berpikir~

Kita diam diatas roda empat yang berjalan

Lagu Andra And The Backbone yang Berjudul Main Hati mengalun dengan percaya dirinya

Kau tahu? Diam-diam itu adalah lagu kesukaanku sejak SMP.

Tapi di sepanjang jalan, di dalam hatiku juga mengalun merdunya suara Iqbal yang menyanyikan lagu Rindu Sendiri, original soundtrack film Dilan

Iqbal menjadi Dilan, kau tahu kan?

Itu tidak penting

Tapi aku menyukai original soundtrack-nya

Aku membuka suara, memulai percakapan.

Lucu jika kita saling berdiam

Kamu membalas percakapanku.

Tahukan kalian? Pada akhirnya kita mengobrol dari A sampai M,

Tentang kegiatan yang akan dilakukan hari ini, tentang KKN, tentang kuliah masing-masing, sampai politik

Tapi disaat itu juga kita tertawa karena jujur aku tidak tahu nama mu

Karena sejak semalam kita hanya saling memanggil mas dan mbak

Dan aku lupa Lala pernah menyebut namamu atau tidak

Aku berhasil mencairkan suasana

Sudah sampai di kampus, aku harus menemui Ibu Dosen yang akan mengisi acaraku

Aku disuruh menunggu di depan LPPM oleh Ibu Dosen

Tak berapa lama kita bertiga menuju suatu tempat

Aku duduk di belakang bersama Ibu Dosen

Alhamdulillah sekali, Ibu Dosen sangat ceriwis orangnya

Jadi aku tidak perlu mencari topik pembicaraan

Sampai di tempat, aku meninggalkanmu

Dan mulai sibuk dengan tugasku

Bodohnya, aku lupa memberimu snack

Padahal kau harus menunggu sangat lama

Aku lupa, teman-temanku juga lupa

Terakhir-terakhirnya aku memberimu snack

Tapi tak lama lagi kita kembali ke Kampus

Kembali mengantarkan Ibu Dosen ke kampus

Kau masih berada di atas roda empat, menungguku.

Ketika aku kembali dan mengambilkan beberapa snack Bu Dosen yang tertinggal. Kamu tersenyum.

Aku kembali menemuimu, duduk di sampingmu

Aku meminta untuk mampir ke Indomaret, terserah Indomaret mana

Aku lapar, aku haus

Kau tahu, anak KKN yang lagi dikejar proker bisa lupa makan lupa segalanya

Lalu kamu memilih Indomaret sebelah kanan, lah kan malah menyebrang jadinya

Terserah kamu

Aku turun, kamu juga ikut turun

Aku membeli Pocary Sweat dan Chitato

Bodohnya aku tidak membeli Sari Roti saja

Kamu membeli Onigiri, dan Pulpy Orange

Lalu kita pulang

Aku heran kenapa tidak lewat jalanan biasanya

Oh ternyata dia lewat jalan arah pelabuhan Tanjung Mas

Menurutku itu lebih jauh, tapi itu menurutku

Tidak tahu menurutmu

Di perjalanan aku dan kamu ngobrol lagi dari N sampai Z

Lalu aku jujur padanya, aku bilang,

“Aku itu sebenere orange pendiem, tapi kalau ketemu orang baru ya harus ngobrol” (biar nggak krik-krik)

“Iya sama, aku juga pendiem”, jawabnya

Aku tidak percaya, tapi jika kamu memang pendiam kamu tipe pendiam yang sangat cool

Tapi kamu bilang lagi bahwasanya, sependiemnya cowok kalau udah ada didalam satu gengnya ya nggak bisa diem.

Lalu kita ngobrol tentang anak-anak hits di instagram dan anak-anak yang kebelet hits.

Oh aku lupa bahwasanya Chitatonya kita makan berdua sambil ngobrol ngalor-ngidul

Sepanjang perjalanan arah pelabuhan kamu bercerita tentang pertama kali belajar mengendarai mobil

Tentu saja aku yang mengajukan pertanyaan dahulu

Kamu tampak antusias bercerita pengalamanmu

Lalu kamu ingin makan Onigirinya

Kamu ingin membuka tapi tidak bisa

Lalu aku menawarkan untuk ku bukakan

“Aku baru tahu malah kalau ada jajanan kayak gini di Indomaret”, kataku.

“Aku tahu ini dari temenku. Rasanya kayak arem-arem.”

Lalu kita tertawa

Kamu bercerita lagi sambil makan

Aku mendengarkan

Alhamdulillah aku bersyukur

Aku sempat merasa takut jika perjalanan bersamamu itu terasa krik-krik atau tidak nyambung

Karena sejujurnya aku belum pernah pergi dengan seorang laki-laki sejauh ini

Tapi Allah memberikan jalan untuk saling berbagi cerita

Kamu seru, kamu asik!

Hingga ranting pohon itu iri melihat kita

Bahwasanya ranting itu jatuh di jalanan raya dan sempat akan mengenai bagian depan mobil jika kamu tak pandai menghindar

Bersyukur sekali lagi kita masih dilindungi, aku takut jika terjadi apa-apa.

Aku sampai di gang posko, aku mengucapkan terimakasih padamu.

Aku tidak tahu ini akan jadi yang terakhir untuk bertemu dengannya atau bagaimana hari esok nanti

“Salam buat Lala,” katanya

“Iya nanti aku sampaikan,” jawabku, tersenyum lalu aku berlalu.

Coming soon untuk cerita part 2 🙂

Rindu Sendiri

Engkau menyusuri jalan bersamanya dikala panasnya siang

Hanya berduaan dengan satu tujuan bahkan lebih dari itu

Namun sudah saatnya untuk pulang

Tak ingin ku akhiri hari itu

“Biar dia merindukanmu sendiri

Jangan resah dia pasti pikirkanmu

Walau kau tak tahu

Hingga diujung malam”

Mendadak Ke Kampung Pelangi

Jadi ceritanya kemarin keponakan saya (yang usianya malah lebih tua dari usia saya) Mariya itu melakukan persalinan di rumah sakit tentara Bhakti Wira Tamtama Semarang atau biasa orang menyebutnya RST atas rujukan dari dokter.

Pukul 10 pagi saya menjenguk kesana bersama keponakan saya yang satunya namanya Dina. Sore hari ketika bosan di dalam ruangan RST, saya akhirnya memutuskan buat keluar nyari udara di area halaman belakang RST bersama Dina. Dinapun akhirnya mengajak temennya bernama Marsela yang kebetulan mamanya sedang di rawat disana.

Singkat cerita lokasi RST sama Kampung Pelangi itu dekat banget, tinggal nyebrang saja pokoknya. Padahal sebenarnya dari awal nggak ada niatan ke Kampung Pelangi sih, karena saya pikir ya mau ke arena belakang yang katanya banyak anak-anak tentara di lapangan, istilahnya cuci mata ha ha. Begitulah kata Dina dan Marsela dua kids zaman now, yang sedari tadi emang keluar mulu dari ruangan tempat opnam keluarga masing-masing dan mereka malah cuci mata lihat kakak-kakak tentara dan perawat ganteng.

Lantas, kita keluar dari RST dan nyebrang buat menuju ke Kampung Pelangi. Padahal saya sering banget ngelewatin Kampung Pelangi, tapi nggak pernah niat buat pergi Kesana dan sekarang malah sampai.

Di Kampung Pelangi ini banyak banget spot buat foto-foto. Tapi karena saya orangnya nggak suka dipotret jadi ya nggak ada foto saya dibawah ini. Jadilah saya seorang fotografer untuk keponakan Saya.

Itu adalah sebagian kecil spot fotonya dan sebenarnya masih banyak banget spot foto yang lebih keren. Yang penasaran yuk wisata ke Kampung Pelangi Semarang. Dan tak lupa untuk memotret random, dibawah ini:

[Dibuang Sayang]

Jadi saya dan Marsela ternyata punya keseruan yang sama, seneng gitu kalau lihat bule *ups. Jadi ceritanya ada 3 orang bule caucasian (1 cowok + 2 cewek) bersama 1 orang lokal (cewek) lagi pada maen ke kampung pelangi. Nah berubung seumur hidup saya belum pernah foto sama Bule. Saya pengen ngajain foto mereka. Marsela pun juga ingin. Tapi sayangnya ada orang lokalnya. Takutnya dibilang noraklah, apalah, apalah. Jadinya kita males aja dan nggak jadi. Dan disaat kita mau nyebrang pulang eh ternyata rombongan itu juga mau nyebrang. Jadilah kita nyebrang bareng gitu. Ini foto mereka yang ku foto dari belakang, agak blur memang wqwq

Kenangan dan Kebohongan di Masa Kecil

Kehidupan masa kecil saya itu bisa dibilang bahagia banget. Setiap hari sepulang sekolah isinya maen terus. Enggak peduli panasnya terik hingga bisa merasakan teduhnya matahari yang akan tenggelam. Sepulang sekolah menyempatkan waktu buat nonton Si Bolang dulu sambil makan, habis itu langsung maen di halaman rumah. Dulu di halaman rumah ada pohon rambutan dan pohon mangga yang tumbuh besar. Rindang banget kalau pagi, tapi dewasa ini sudah ditebang untuk kepentingan tertentu.

Waktu kecil saya dan teman-teman suka banget maen petak umpet, sudamanda, kelereng, lari-larian, spelan, pisang-pisangan, kasti, lompat tali, gobak sodor, mikado, dino, dakon, pencok-pencokan, pasaran, orang-orangan, doraemon, koko riko, dan juga permainan tangan diiringi nyanyian (lupa namanya apa), sepedaan sampai desa sebelah, dan lain-lain.

Saya masih ingat beberapa kenangan masa kecil saya yang konyol di sela-sela atau setelah permainan. Kalau lagi maen petak umpet atau permainan kasti dan tiba-tiba ada abang tukang bakso langganan lewat pasti saya berhenti maen dan mengatakan “nas” dulu buat ijin mau beli bakso. Lalu saya makan di dalam rumah sambil merhatiin temen-temen lain yang masih lanjut maen. Segitunya, saya memang penyuka bakso fix dari kecil banget dan setiap hari saya beli dengan harga 3000 rupiah. Dulu masih murah dan dapat banyak ada bakso besar, beberapa bakso kecil, mie putih, mie kuning, dikasih gajih juga, dan saya selalu pesen nggak pakai sawi karena waktu kecil saya anti sayuran.

Saya pernah berbuat konyol selain kisah diatas dimana ketika bermain, pasti kadang ada yang namanya sandalnya putus kan? Atau pedhot dalam bahasa Jawa-nya. Nah tiap sandal saya putus, pasti sama ibu/bapak nggak dibeliin sandal baru lagi tapi malah dikasih tali rafia buat nyambungin lagi, adalah pokoknya caranya sehingga sandal yang pedhot tadi bisa dipakai lagi. Nah karena saya bosen pakai sandal itu dan kebetulan waktu itu di warung lagi banyak yang jual sandal jepit warna cokelat (merk lupa), alhasil saya diam-diam nyemplungin salah satu sandal itu ke sumur. Lalu habis bermain saya bilang ke ibu kalau sandal yang satunya hilang. Ibu pun kemudian ikut nyari-nyari tapi nggak ketemu, jelas karena saya sudah masukan ke sumur. Alhasil saya akhirnya dibelin sandal baru he he he

Kekonyolan yang lain yaitu saat kelas 2 SD, dan wali kelas saya amat sangat galak sekali. Saya pernah ditampar gara-gara tidak bisa menyelesaikan soal matematika dengan benar. Saya tentu saja nangis waktu itu, bayangin kelas 2 SD ditampar sama guru. Tapi saya tidak pernah bilang dengan orang tua saya. Malah saya cerita tentang itu diusia SMP kalau tidak salah.

Karena dapat guru yang killer, saya jadi agak males ke sekolah. Hingga suatu hari harus berbohong dengan ibu. Jadi ceritanya saya waktu kecil sering banget kena sakit gigi. Hingga akhirnya saya berbohong dengan ibu dan menggunakan alasan bahwa saya sedang sakit gigi dan ingin izin tidak berangkat sekolah. Lalu ibu membelikan saya obat sakit gigi, setelah ibu datang membawa obat saya disuruh minum. Tentu saya pura-pura minum obat itu padahal obatnya masih di mulut untung tidak pahit. Entah dapat ajaran dari mana itu :3. Kemudian saya ijin ke sumur dan ibu lanjut masak. Finally, saya buang itu obat ke sumur. Sumur oh sumur malang nian nasibmu~

Kenangan lain yang mungkin bikin elus dada yaitu dimana saya diajak kondangan sama ibu, dan kebetulan ada hiburan dangdut. Pasti ada orang yang jualan mainan kan? Nah saya pengen dibelikan sejenis boneka anjing yang ada baterainya jadi bisa gerak-gerak sendiri gitu anjingnya. Nah ibu malah membelikan mainan papan tulis (bukan papan tulis kayu/triplek). Ini papan tulis yang bisa di cap menggunakan cap dari stempel berbentuk bangun datar lingkaran, segitiga, persegi, dan bisa menggunakan pulpen asli dari alat tersebut. Saya tidak tahu itu namanya permainan apa. Tapi sebenarnya asyik juga karena bisa belajar mengenal bangun datar dan tulis menulis.

Ada cerita lain lagi, dulu saya juga suka banget bermain orang-orangan kertas. Lucu-lucu gitu gaun-gaun dan orang-orangnya. Lalu membuatkan rumah beserta perabotan rumahnya dari barang-barang bekas, lalu bermain drama menggunakan mereka sebagai lakon sedangjan saya dan teman sebagai pengisi suara. Enggak pernah bosen permainan itu. Dulu dibeliin mobil-mobilan juga sama bapak, padahal saya nggak minta kayaknya. Kayaknya sih.

Saya berani menceritakan kisah kebohongan saya di waktu kecil itu ketika usia SMP kalau tidak salah, dan ibu justru malah kaget dan tertawa mendengarnya. Btw, saya waktu kecil itu pendiam banget tapi kalau udah asyik maen dengan temen-temen ya happy aja. Sampai dewasa ini juga masih pendiem tapi kadang-kadang ya begitu sifat enggak tahu malu, konyol, anti jaim tiba-tiba datang disaat bersama orang-orang tertentu. Intinya cocok-cocokan aja sama orang. Dewasa ini juga heran bagaimana mungkin saya waktu kecil bisa berbohong segitunya dan mengapa selalu ingat sampai sekarang. Wah tampaknya saya punya salah sama ibu banyak banget ya.

Dear Ibu,

Maafkan kebohongan dan kenakalan anakmu waktu kecil dulu ya bu. Terimakasih atas segala kasih sayang mu. Aku percaya kasihmu tiada henti untukku, dan akan selalu memaafkan kesalahanku. Love you 🙂

Paranoid

Akhir-akhir ini kalau saya sedang melakukan aktivitas hal-hal yang bersifat menghibur diri alias menyenangkan, jantung saya malah sering berdebar nggak karuan. Semacam takut gitu sama apa yang akan terjadi nanti. Contohnya ketika saya sedang menonton film atau drama Korea di beberapa menit tayang tiba-tiba ada aja hal-hal yang saya pikirkan dan tanyakan sendiri diluar tontonan seperti pemikiran dan pertanyaan skripsi kapan ya di acc? Antara seminar atau publikasi entar kedapatan yang apa ya? Sidang rasanya gimana sih? Entar ribet nggak ya ngurus ini itu? Dan pertanyaan lainnya diselingi debaran jantung saya yang nggak karuan. Karena pertanyaan dan debaran jantung yang tiba2 saja muncul alhasil saya sudah nggak fokus lagi sama tontonannya, lalu saya pun mengademkan kondisi saya sendiri bahwa bukan hanya saya saja yang mengalami kayak gini, teman-teman yang lain juga ngerasain hal yang sama. Kamu juga butuh hiburan, paranoidnya harus dikurangin. Lalu beberapa detik kemudian pertanyaan-pertanyaan itupun hilang dan jantungnya normal kembali dan saya menyetel ulang bagian yang tidak terlalu saya fokuskan tadi.

Waktu lulus SMA, 2014 lalu, saya pernah bilang pada diri saya sendiri bahwa pintu gerbang kehidupan yang sebenarnya sudah dibuka. Ya, kita sudah tidak lagi pakai seragam putih abu-abu lagi. Ketika pintu gerbang itu udah dibuka kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang ada seperti mau lanjut kuliah, kerja, atau kuliah sambil kerja. Saya pilih lanjut kuliah berkat dukungan orang tua.

Masa kuliah awal semester 1-3 itu merupakan dimana beban yang dipikul masih ringan banget, paling tugas kelompok. Tapi bikin BT juga kalau ada beberapa teman kelompok yang nggak bisa diajak kerja sama. Saya dan teman-teman dekat saya paling deg2an kalau ada pembagian kelompok tugas, takutnya kena temen-temen yang susah diajak kerjasama. Semester 4-5 itu adalah semester tersibuk. Di semester 4 kita ada pagelaran seni tari dan drama. Persiapannya harus matang. Ide, waktu, materi, dan tenaga harus maksimal, apalagi puasa-puasa juga harus latihan. Alhamdulillahnya kita dapat juara 3.

Di semester 5 juga begitu ada pagelaran seni musik, namun tidak mendapat juara.

Semester 6,7 malah udah agak nyantai lagi (menurutku sih). Cuman pas jatah liburan masuk ke semester 7 dipakai buat magang kependidikan 3 selama satu bulan setengah. Now, semester 8 udah sibuk bikin skripsi, dan bikin paranoid, seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Well, saya belum tahu bakal wisuda periode September / Desember harapannya tahun ini, 2018.

Disela-sela aktivitas yang menyenangkan atau sedang santai ketakutan lain juga muncul seperti entar kalau udah lulus saya bakal jadi guru nggak ya? Soalnya selama ini dididik untuk menjadi seorang guru. Saya lupa kapan pertama kali berubah pikiran untuk tidak menjadi guru, ya kalau tidak salah mulai semester 6 saya malah punya tujuan lain seperti akan melamar di kantor yang menerima all jurusan atau melamar di bank-bank yang seringkali menerima pelamar dari all jurusan. Entah sepertinya menjadi guru bukan profesi yang saya ambil nantinya, meskipun waktu kecil kalau ditanya tentang cita-cita saya pasti menjawab guru, begitu kata ibu saya. Lulusan calon guru nggak harus jadi guru kan? Biar waktu yang menjawab jadi apa saya nanti.

Selain pendidikan dan karir, pertanyaan tentang cinta kadang juga muncul. Aneh nggak sih ketika kita merasa suka sama seseorang, eh ternyata seseorang itu biasa aja sama kita. Ketika seseorang begitu perhatian sama kita, eh malah kitanya yang biasa aja. Enggak bisa ditebak memang perasaan suka itu kapan. Dan itu pernah beberapa kali saya alami. Dari mereka, banyak yang perhatian sih dengan saya, tapi saya tidak memiliki perasaan kepada mereka. Waktu itu saya masih usia SMP, SMA. Ada beberapa anak yang naksir saya tapi di usia itu saya belum berani pacaran, dan saya juga tidak memiliki perasaan pada mereka. Intinya bukan untuk sembarang hati perasaan ini wqwq. Kuliah semester 7 waktu magang 3 malah ditaksir sama si A guru di sekolah tempat Saya magang. Lagi-lagi saya juga tidak memiliki perasaan padanya. Lalu ketika saya memutuskan benar-benar jatuh cinta dengan NHA disitulah saya langsung patah hati. Mungkin itu adalah pembalasan buat saya agar lebih menghargai keberadaan orang-orang yang perhatian dengan saya. Orang-orang yang tulus sayang dengan kita. Oh terimakasih atas pelajarannya. Tapi jujur, saya tidak bisa jatuh cinta dengan sembarang hati, jadi maafkan sikap saya di waktu-waktu itu. Saya memilih untuk tidak pernah menjalin hubungan yang namanya pacaran dengan siapapun sampai detik ini. Biarin aja dengan ledekan atau pertanyaan teman-teman seperti, “eh serius kamu belum pernah pacaran?”

Teman di KKN pernah bilang kalau dia itu penasaran banget sama jodohnya kelak dan kemudian dia tanya sama saya juga. Saya jawab enggak terlalu penasaran juga sih. Kelabilan haqiqi saya yaitu saya pernah pengen dapat jodoh bule, atau abdi negara gitu. Tapi seiring waktu keknya kita nggak bisa memutuskan kita harus dapet jodoh kayak gini, atau dapet jodoh kayak gitu deh.

Pendidikan, karir, cinta udah, apalagi ya? Kematian mungkin?

Kita tidak pernah tahu kapan kematian akan datang. Hari ini masih sehat, tahu-tahu besok tidak ada. Tengah malem kalau kebangun, saya kadang mikir gimana kelak setelah kematian datang menghampiri. Banyak sekali yang harus dipertanggungjawabkan bukan.

Kalian juga pernah berpikir begitukah?

Yah, begitulah postingan yang menceritakan keparanoidan yang saya alami akhir-akhir ini.

See you~

Mendadak ke Tangerang – Jakarta

“Musda ada rencana liburan nggak?”

“Enggak ada Rul, gimana?”

“Ke Tangerang yuk?”

“Kapan?”

“Akhir Maret kalau nggak, awal April.”

Begitulah kira-kira pesan whatsapp dari Nurul, pertengahan Maret lalu. Saya belum bisa menyetujui langsung karena saya masih menjadi anak ibu bapak plus berstatus sebagai mahasiswa yang belum bisa nyari uang sendiri ha ha. Maka dari itu saya harus tanya dulu ke Ibu boleh nggak kesana sekalian minta uang saku buat kesana haha

Alhasil ibu ngebolehin. Bapak? Oke juga~

Tujuan kami kesana yaitu buat refreshing karena habis mengikuti program KKN selain refreshing juga untuj mengunjungi ortunya Nurul yang merantau di Tangerang. Jadi ortunya punya usaha warteg gitu disana. Dulu sempet buka warteg di Jakarta tapi sekarang buka di Tangerang.

Rabu, 4 April 2018 pukul 8 pagi kami berangkat kesana menaiki transportasi kereta api dari Stasiun Tawang ke Stasiun Pasar Senin. Kalau boleh jujur sih itu pertama kali saya naik kereta api. Iya, dari dulu saya pengen banget naik kereta. Tapi nggak tahu mau kemana, toh kampus saya juga berada di kota tempat kelahiran saya. Punya beberapa temen deket tapi tranportasi yang mereka pakai buat pulkam yaitu sepeda motor, bus atau travel gitu, karena memang tidak ada jalur kereta api tujuan sana.

Pukul setengah tiga sampai di Senen, kami segera pesen GrabCar buat menuju ke Tangerang. Selama perjalanan saya puasin tuh lihat pemandangan gedung-gedung Jakarta, soalnya sudah cukup lama saya tidak ke Jakarta lagi dan paling cuman lihat di TV. Kami sampai di Tangerang pukul setengah 5 sore. Ibu dan tantenya Nurul sudah stand by menjemput kita. Hal yang saya rasain waktu turun dari kereta dan mobil yaitu atmosfer yang udah beda, ini di Kota orang suasananya pasti beda banget dengan kota sendiri.

Selama di Tangerang saya diajak kemana-mana, soalnya tempat jualan dan tempat tinggalnya memang strategis buat kemana-mana. Tempatnya beneran deket dengan Metropolis Mall, dan juga TangCity Mall yang bisa dikunjungi dengan jalan kaki.

Di Tangerang saya tidak lupa juga buat ngerasain makanan-makanan favorit saya sejak kecil yaitu bakso dan mie ayam. Itu adalah makanan yang tidak boleh absen kalau mengunjungi tempat baru. Tapi kalau yang mie ayam sih boleh absen deng heuheu. Lalu saya temukan perbedaan kalau di Tangerang bakso atau mie ayam tidak lupa selalu dikasih kecambah. Kalau di Semarang free kecambah haha. Untuk sekarang saya sudah cukup ‘lumayan’ menyukai kecambah jadinya no problem ada kecambahnya. Terus makan juga soto mie Bogor, sumpah ini enak banget. Btw, yang jual asli orang Bogor. Serius saya pengen makan soto mie Bogor lagi ___”

Saya disana juga diajak maen ke Taman Gajah, Taman Potret, juga ke Pasar Sore naik angkot. Angkot adalah transportasi yang sudah lama tidak pernah saya naiki. Padahal di Semarang banyak sekali angkot wara-wiri. Dan terakhir kali naik angkot itu waktu saya masih kecil sekali. Kata Nurul pasar Sore itu kayak pasar Johar di Semarang sembarang kebutuhan ada. Disana saya dicobain jajanan namanya kue ape semacam serabi gitu, dan lagi-lagi saya suka rasanya.

Minggu, 8 April 2018 saya, Nurul, dan ortunya memutuskan buat maen ke Jakarta tepatnya ke Monas. Waktu 2009 lalu saya cuman bisa ngelewatin Monas dan sekarang akhirnya saya bisa menapakkan kaki kesana. Kalau Nurul dan ortunya sih udah beberapa kali ke sana. Perjuangan ngantri naik ke puncaknya pas hari libur luar biasa. Kurang lebih dua jam setengah ngantri. Saya salut dengan mbak2 hamil yang di depan saya, dia kok kuat banget gitu. Sampai dipuncak terbayarkan sih kena angin sepoi gitu dan bisa lihat pemandangan haha. Lima menit diatas cukup lalu kami turun lagi wqwq

Sebenarnya saya ditawari mau lanjut ke Kota Tua atau tidak, tapi karena saya sudah capek saya memutuskan untuk tidak jadi kesana. Kakinya nggak kuat, udah pengen istirahat.

Senin, 9 April 2018 kami pulang. Jadwal Kereta ke Semarang pukul 1 siang. Pokoknya selama liburan disana semua momen menyenangkan apalagi ortunya Nurul itu baik banget dan saya selalu dihargai selama disana. Banyak kebaikan-kebaikan yang mereka berikan pada saya.

Terima kasih Jakarta penuh cinta, Tangerang sejuta sayang, Semarang aku pulang 😀

[Dibuang sayang]
-Jadi tiap malem, ibunya si Nurul pasti stand by di depan televisi buat lihat Anak Langit, iya beliau suka sekali nonton itu. Mau tidak mau harus ikut nonton meski saya tidak paham jalan ceritanya karena tidak pernah mengikuti.

– Di warteg yang jadi koki itu bapaknya Nurul karena malah beliau yang pinter masak. Yg mbuatin nasi goreng tiap malem buat makan malem yaitu si bapak. Nurul suka baget nasgor tiap buatan bapaknya. Saya malah suka banget sayur asem, dan ikan asinnya. Meskipun saya hanya ngambil kuah dan sedikit kolnya karena saya memang tidak terlalu suka sayuran. Kuahnya seger.

– Wartegnya laris banget, pelanggannya juga asik dan ramah. Suka deh kalau ada yang sesekali nanyain pakai bahasa Indonesia dengan logat Sunda mereka.

See you ^^

Nggak Boleh Ngatain

Tak rancang semudah itu, tidak tahu implementasinya nanti. Saya siap menanggung resiko, saya siap mengulang jika hal yang tidak saya inginkan terjadi juga. Harapannya ikut momen sakral selanjutnya, tapi sekarang hanya bisa pasrah.

Nggak boleh ngatain, nggak boleh ngatain, ingat puasa~