Terimakasih Si A – MBAK

Masih ingat dengan postingan berjudul Kondangan yang didalamnya tertulis sedikit cuitan tentang si A? Jadi begini sekarang ceritanya.

Ahaha kalimat pembukanya kok jadi mirip semacam judul artikel di Line Today sih wqwq. Ya intinya begitulah hehe. Dipostingan kondangan saya kan pernah menuliskan bahwa kapan-kapan saya mau posting tentang si A. Si A itu seseorang yang pernah menyukai saya di tempat magang yaitu pas magang di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Semarang. Sebelum berlanjut perlu diketahui bahwa di SD tempat saya magang terdapat 4 bapak guru yang masih muda, yaitu Pak MBAK alias si A, Pak REV, Pak SH, dan satunya aku lupa namanya :3

MBAK, inisial nama panjangnya. Panjang sekali memang namanya. Panggilannya bisa pakai nama M bisa juga A. Dari sederetan nama panjangnya itu mungkin cukup asing untuk didengar para penduduk Indonesia bagian barat semacam saya. Pertama kali melihat dia, saya memikirkan kalau ini orang pasti dari wilayah Indonesia Timur, meski kenyataan dia kelahiran Bandung. Jabatan si A di SD itu dulu sebagai guru Bahasa Inggris, tapi karena pelajaran Bahasa Inggris di SD telah ditiadakan dia akhirnya menjadi guru Tata Usaha disana.

Singkat cerita, saya tidak menyangka jika acara perpisahan magang itu menjadi momen pengakuan si A bahwa selama ini diam-diam si A menyimpan rasa pada saya. Btw, saya dan teman-teman mulai magang di SD itu tanggal 1 Agustus 2017 – 18 September 2017. Dan Senin, tanggal 18lah hari yang menjadi hari perpisahan sekaligus hari terakhir berada di SD, sebuah pengakuan muncul.

Bermula ketika acara perpisahan berlangsung, guru pamong saya Bu R berulang kali sibuk dengan HPnya sesekali melihat ke arah saya. Ya, saya merasa takut karena hari Sabtu sebelumnya saya tidak berangkat magang dikarenakan ada acara keluarga. Dalam hati saya bertanya-tanya, apakah saya mau dimarahin atau bagaimana? Tapi saat itu saya mencoba bersikap tenang, melawan takut. Waktu itu sambutan-sambutan telah selesai dan saatnya acara tumpengan, dimana guru-guru dipersilakan mengambil nasi tumpeng yang telah disediakan. Saya melihat Pak REV bersama si A keluar dari tempat acara perpisahan. FYI, Pak REV itu menjadi guru idola bagi beberapa anak magang termasuk saya xD, begitu juga dengan Pak SH juga jadi idola disana. Dalam hati, saya berkata “yah kok Pak REV keluar sih, nggak makan dulu.” Demikian saya tidak mempedulikan si A.

Ketika guru-guru lain mengambil nasi tumpeng, Bu R masih duduk ditempatnya lalu tiba-tiba menanyakan nama saya pada teman-teman. Sontak saya kaget, duh ada apa ini? Hingga teman-teman memberikan jawaban nama saya.
“Mbak dapat salam dari Pak M.” Begitu kata Bu R. Saya kaget campur bingung candaan macam apa ini? Seluruh temen-temen juga kaget tapi campur seneng gitu. Kok bisa tiba-tiba gitu, salam-salaman segala. “Nih mbak beliau tanya mbaknya masih sendiri apa sedang taarufan?” Bu R mendekati saya sambil memperlihatkan isi obrolan WA nya dengan si A. Oh My God, pengen panjat tebing jadinya. Sontak temen-temen tambah ramai ikut menimbrungi dan tampaknya mendukung. Apalagi si NK teman dekat saya. Hingga akhirnya terlihat chat si A meminta nomor WA saya, suasana tambah ramai pipi saya memerah kata temen saya. Salah satu temen membacakan nomor WA saya dan disitulah saya bingung dan deg-degan setengah mati. DT temen magang, dengan keras mengatakan, “wah Musda bakal jadi mantunya Bu O,” ucapnya dengan suara khas Palembang. Saya pun reflek menepuk bahu DT, karena Bu O juga masih di dalam ruangan ini.

Asal kalian tahu, Bu O itu mamanya si A yang juga menjadi guru disini wajahnya juga khas Indonesia Timur gitu. Namun, keyakinan mereka berdua berbeda, bu O non muslim dan si A muslim.

Setelah acara perpisahan selesai saya sepanjang waktu diledek sekaligus didukung mereka, lalu cerita-cerita juga bagaimana mungkin si A memiliki perasaan pada saya. Hingga saya mengingat-ngingat beberapa momen apa saja dengan dia yaitu saat dia membuat tenda untuk kemah pramuka dia ngajak ngomong gitu, lalu ketika saya mengambil gambar anak-anak kelas 3 dia lewat dan nimbrung “saya nggak diajak sekalian,” lalu saya hanya membalas dengan senyuman dan memberi jalan agar bisa lewat, lalu yang terakhir ketika saya menemani teman saya meminjam proyektor yang diurus sama si A. Sudah, hanya itu saja momennya. Tapi bagaimana mungkin dia menyukai saya?

Malamnya saya nggak bisa tidur, karena kejadian tadi siang. NK juga tanya-tanya apakah si A sudah ngechat apa belum. Hingga akhirnya pukul 22.00 dia ngechat dan chatnya bikin hati saya gimana gitu. Bagaimana tidak? Dia menyapa saya dengan salam Assalamualaikum ukthi. Lalu baris kedua menanyakan apakah benar ini nomor saya. Yang patut digarisbawahi yaitu kata Ukhti. Meskipun ukhti berarti saudari tapi saya tidak menyangka bahwa dia begitu religius sekali. Saya agak gimana gitu dengan sapaan ukhti, menurut saya ukhti itu sapaan untuk perempuan yang sehari-harinya tertutup dan syar’i, yang ucapannya lemah lembut, ibadahnya rajin dan lain-lain pokoknya yang baik-baik. Sebaliknya dengan saya yang kadang kalau pergi jarak dekat saja saya kadang tidak memakai kerudung. Lalu ketika saya berkerudungpun saya memakai pakaian yang tidak termasuk kategori syar’i tapi juga bukan kategori ketat. Biasa saja yang penting sopan. Tutur kata saya juga tidak lemah lembut, biasa saja pokoknya. Tapi dia memanggil ukhti, agak gimana gitu. Ya, saya merasa dihargai, tapi seperti belum pantas menerima panggilan itu. Ah sudahlah..

Saya lupa apakah saya membalas malam itu juga atau paginya. Intinya saya sebenernya malas sekali untuk menanggapi karena saya memang tidak memiliki perasaan padanya. Saat membalaspun saya pura-pura menanyakan ini siapa dikarena foto profilnya pemandangan senja. Pagi itu sebuah pesan WA muncul dan tertulis balasan darinya, Ini A. Hingga akhirnya kami ngobrol di whatssap meskipun kadang sengaja saya balas lama.

Rabu saya pergi sendirian ke SD untuk meminta tanda tangan kepala sekolah, saya sendirian kesana karena tema-teman sudah pada pulang kampung sedangkan file laporan ternyata masih ada yang kurang, maka dari itu akhirnya saya yang asli orang Semarang dipasrahi meminta tanda tangan di SD dan segala keperluan sampai mengumpulkan file di kampus. Ketika masih di luar pintu ruangan kepala sekolah, saya tidak sengaja melihat si A lewat almari transparan sedang sibuk di depan komputer. Btw, ruang TU dan Kepala Sekolah jadi satu. Saya akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan, si A sudah melihat tapi nggak segera beranjak berdiri, dia hanya menoleh kayak bingung gitu. Mungkin kaget karena tiba-tiba saya muncul disini.Toh saya juga tidak memberitahu dia kalau saya ada keperluan di SD. Ketika dia akan beranjak berdiri, Ibu Kepala Sekolah muncul. Ketika urusan selesaipun saya pamit, dan sedikit melihat si A yang masih sibuk dengan komputernya. ~

Malam itu juga dia WA saya tanpa membahas kejadian tadi siang, feelingku sih dia mungkin nggak ngeh kalau yang datang tadi siang adalah saya. Atau kemungkinan kedua, dia malu untuk bertemu saya sehingga pura-pura cuek. Whatsappan episode malam itu sih dia bilang kalau dia pengen memuji saya. Kata dia saya itu orangnya anggun, kalau ada masalah juga sabar ngadepinnya dan lain-lain. Hmm apa selama ini dia memang benar-benar mengamati saya? Dia juga tanya apakah saya beneran sudah punya pacar atau belum. Terus suatu saat boleh main ke rumah tidak, pokoknya macem-macemlah. Dini hari dia WA saya, membangunkan saya agar shalat malam. Saya pagi-pagi hanya membaca lewat notif lagi pula hari-hari itu saya juga lagi libur. Selain libur saya juga jarang sekali melakukan shalat malam sih, saya berpikir ini orang kok religius banget gitu.

Pada akhirnya setiap hari dia WA saya, karena dari awal saya tidak punya rasa ke dia, beginilah jadinya. Dia yang paling aktif dalam obrolan, kadang-kadang saya balesya juga lama gitu. Oh iya, kan aku akhirnya juga cerita juga sih sama NK dari A-Z, NK bilang kesaya namanya juga lagi awal suatu saat pasti saya ada rasa sama dia. Ah enggak, saya nggak bisa. Si A bukan tipe saya, titik. Jadi bagaimanapun juga saya nggak bakal suka sama dia. Sampai detik ini. Tapi saya pernah berandai-andai jadian sama dia. But, kembali ke awal lagi kalau nggak cinta kan sama aja bohongin diri sendiri dan bohongin dia juga. NK juga bilang kalau saya tuh orang yang beruntung. Beruntung bagaimana? Sekali lagi dia bukan tipeku, NK menyayangkan. Si A itu sebenernya sosok idaman banget buat NK bagaimana tidak? si A Udah mapan, ibadahnya rajin, siap ke rumah, dll. “Tapi sayang, yang disukai bukan aku,” begitu kata NK.

Minggu depannya, si A sok protektif gitu. Jadi ceritanya saya sudah berkali-kali bilang kalau saya di Kota Lama maen sama temen alias Ayu, eh dia ngotot nuduh saya pergi sama anak cowok. Ya, saya mempertahankan jawaban saya dong. Sebelumnya saya juga cerita sama Ayu tentang si A. Si Ayu juga mendukung kalau saya sama dia :3. Saking sebelnya saya karena dia ngotot, saya pengen upload foto saya sama seorang kakak penyiar radio yang sempat saya temui sebelumnya biar si A ngejauhin saya. Tapi Ayu nggak ngebolehin, dia bilang jangan, kasihan. Habis saya BT sih, hingga akhirnya dia yang meminta maaf sama saya karena telah menuduh sembarangan.

Waktu demi waktu karena saya sudah merasa nggak nyaman kontekan sama dia, akhirnya saya tidak membuka WA dari dia untuk beberapa hari. Nomor dia juga nggak tak kasi nama akhirnya. Btw, dari notif saya melihat sedikit isi WA kalau dia menyuruh saya buat shalat malam. Kalian tahu karena saya cuekin, pada akhirnya dia benar-benar jauh dari saya. Begitulah, karena dari awal saya juga nggak suka sama dia. Saat dia benar-benar pergi ya saya merasa biasa aja malah bersyukur karena tidak ada yang mengganggu saya lagi.

Saya cuman bisa minta maaf aja sih, saya emang banyak banget kekurangannya. Saya berdoa dia bakalan dapet jodoh yang lebih baik dari saya. Saya ingin berterimakasih padanya karena dia bersabar sekali dalam memendam perasaannya pada selama saya magang disana, dan baru diketahui pada acara perpisahan disana. Mungkin dibalik itu dia ingin menghargai dan menghormati saya selama di SD agar saya fokus dengan tugas saya sebagai mahasiswa magang. Saya tidak tahu jadinya kalau dia mengungkapkan di tengah-tengah perjalanan magang, mungkin saya tidak akan bisa berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas.

Akhir kata terimakasih banyak~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s