Resign

Enggak tahu lagi ini harus sedih atau seneng. Keputusan besar ini harus aku ambil, setelah aku bekerja lima bulan di sana. Iya lima bulan, waktu yang cukup singkat bukan? Jujur, sebenernya aku itu kayak nggak mau resign dari kerjaan ini. Tapi ketika sebuah tekanan datang bertubi-tubi, resign menjadi alasan paling mujarab menurutku -saat itu-. Bekerja disana sebenarnya enak, apalagi aku di bagian Contact Center Digital Care dimana kerjaannya membantu menjawab pertanyaan/keluhan pelanggan melalui email atau sosial media, jadi nggak ketemu pelanggan langsung dan nggak ngomong by call juga. Pokokmen kerjaannya ngetik terusss. Tapi ada sih dimana kita harus call back pelanggan kalau emang urgent banget. Oh iya, sebenernya angkatanku itu bisa dibilang beruntung, karena untuk menjadi agent Digital Care itu sebelume harus pernah jadi agent Call Inbound terlebih dulu. Aku sih bersyukur banget bisa langsung masuk di bagian Digital Care, soalnya aku tuh nggak suka ditelfon, apalagi ditelfon pelanggan yang pastinya selalu komplain wkwk.

Hal yang menyenangkan kedua yaitu, letak kantor. Kantor si provider kuning ini berada di tengah-tengah pusat kota Semarang. Dengan sepuluh lantai, saya kerjanya di lantai sembilan. Tempatnya nyaman, luas, dan bersih. Makanan di kantin (lantai 4) enak-enak dan terjangkau harganya. Eh jadi kangen ayam geprek sama tahu krispinya nih. Aku suka banget kalau lagi makan milih yang deket jendela biar bisa sambil lihat pemandangan kota Semarang.Untuk urusan pakaian juga santai. Untuk hari ini Senin wajib pakai atasan batik, Selasa sampai Jumat pakai baju bebas yang penting sopan, Sabtu – Minggu boleh pakai kaos.

Btw, aku juga seneng banget ketika mendapatkan teman-teman yang asyik, aku punya temen deket YFI dan HY. Tapi sayang HY udah resign 1 bulan setelah ia bekerja, tinggalah aku sama YFI dan akhirnya aku sendiri akhirnya juga resign. Padahal aku mewanti-wanti nggak bakalan mau resign (hmmm mungkin aku mengatakan saat masih nyaman-nyamannya). Tinggalah YFI, beruntung YFI punya pacar di sana dan seangkatan juga masuknya, jadi aku masih bisa tenang. Kami masih sering ketemuan juga kok, pokoknya terbaiklah mereka.

Di kantor itu, aku juga mendapatkan Team Leader yang amat baik, ARP inisialnya, dia cowok, dan sangat peduli sama anak-anaknya (re: anggota timnya). Sayangnya, kami setim nggak pernah kumpul bareng, makan bareng-bareng di luar, atau foto-foto bareng gitu. Salah satu anak lama (existing) udah ada yang ngode, tapi tetep aja nggak pernah terlaksanakan. Kami yang anak baru mah, nggak berani usul-usul gitu wkwk. Kadang aku iri sama tim yang lain, yang diajak TL nya untuk refreshing.Satu lagi yang membuat aku seneng disana yaitu ketemu gebetan #eh. Hehe enggak sih, entar kapan-kapan aku tulis, cerita tentang dia alias RW inisialnya.Lalu apa sih yang bikin resign, orang semuanya tampak sempurna gitu?Hmmm, salah satu teman seangkatan tiba-tiba mengirimku sebuah pesan, apa alasanku resign. Tapi aku tidak menceritakan alasan utama kenapa aku resign. Akupun menjawab dengan jawaban yang sudah biasa terdengar yaitu “sudah tidak nyaman”. Konyol memang, aku sadar semua pekerjaan pasti tidak nyaman. Entahlah aku tidak ingin bercerita lebih lanjut tentang alasan utama itu.

Aku juga tidak bilang kepada temanku itu kalau aku sebenarnya merasa tertekan karena suatu hal. Sehingga akupun menjawab “ketidaknyamannya” itu karena sistem shift. Btw, disana itu ada 3 shift untuk cewek, dan dua shift untuk cowok. Kalau shift pagi cewek ada pukul 6, 7, 8, 9, dan 10. Untuk sift siangnya, pukul 13. Untuk cowok masuknya mulai sore pukul 15, 16, 17. Untuk Dawn Shift (DS) mulai pukul 22, rata-rata cewek sih, dan cowok hanya beberapa aja yang DS. Libur nggak nentu alias sesuai jadwal. Tanggal merah dan hari Minggu tetap masuk kalau semisal dapat jatdwal masuk. Kalau sering dapat DS, tanggal merah/hari Minggu masuk, gajinya juga nambah banyak lho wkwk.

Sebelumnya enggak ada yang tahu pasti kenapa aku resign, bahkan YFI sendiri sebelumnya enggak pernah aku ceritaan alasan utama kenapa aku resign dan dia sama pacarnya menduga kalau aku resign karena alasan shift. Hingga akhirnya beberapa minggu setelah resign aku pun bercerita apa yang sudah terjadi padaku hingga aku mengambil sebuah keputusan besar itu. YFI kaget, dan enggak tahu dan enggak nyangka soal itu. Ya iyalah, aku kan orange jarang cerita yang sedih-sedih hehehe. YFI bilang kalau seandainya dia diposisiku mungkin ia akan mengambil keputusan yang sama.

Kadang aku bener-bener iri sama mereka yang bisa tahan banting, cuek, dan bodo amat. Kok bisa sih mereka kayak gitu, kenapa aku enggak? Tapi setelah melakukan resign ini aku bener-bener mengambil pelajaran seperti; aku harus lebih kuat dari sebelumnya, aku kudu meluangkan waktu untuk nongkrong sendirian ataupun sama temen-temen biar nggak stres. Iya, soalnya aku kalau udah kerja gitu bawaannya fokus mulu dan jarang meluangkan waktu untuk sekedar nongkrong wkwk. Hmmm harusnya seimbang kan ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s